Cerita|Respons Bencana Banjir Bandang di Tapanuli Tengah

“Ayo Main Putpatcamat Lagi!”

9 April 2026

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama kali menginjakkan kaki di sana. Banjir bandang sudah lewat, tapi bekasnya belum pergi, sekolah-sekolah masih berdiri dalam kondisi rusak, sebagian anak-anak belajar di huntara dan tenda darurat.

Mas Andi, sapaannya, ia pernah juga melakukan respons tanggap darurat di Palu, Sulawesi Tengah dengan fokus pendampingan pada peer disabilitas. Tapi kini di Tapanuli Tengah menurutnya berbeda. Kali ini ia bersama rekan YEU lainnya mendampingi anak-anak melalui Dukungan Psikososial Awal (DPA) dan juga ini pertama kalinya ia bertugas di Sumatra.

Rencana awalnya ialah kunjungan beberapa sekolah dasar dengan membawa Putpatcamat, sebuah permainan edukasi kebencanaan interaktif yang digagas oleh inovator lokal IDEAKSI 2.0 yaitu PPDMS (Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera) Gunungkidul.

Putpatcamat yang awalnya disiapkan hanya untuk jenjang SD. Tapi ternyata di lapangan, yang datang dimulai dari anak-anak TK, SMP, bahkan SMA. Ada yang bermain di ruang kelas darurat, ada yang di tenda dekat rumah warga, ada pula yang di tempat biasa mereka bermain. Total enam unit Putpatcamat dengan model elektrik dan model biasa tersebar di empat sekolah, satu huntara, dan dua titik komunitas.

Masih jadi kendala untuk pembuatan Putpatcamat beraksara Braille. Setiap keping harus dibuat manual dan belum bisa dicetak massal. Tapi itu masalah untuk lain hari.

Ada tiga hal yang Mas Andi bawa pulang dari Tapanuli Tengah.

Pertama, soal pendidikan. Beberapa siswa SMP kesulitan menjawab soal-soal Putpatcamat yang dirancang untuk SD ini karena akses pendidikan yang belum merata sampai ke pelosok, khususnya saat kondisi darurat.

Kedua, soal bahasa. Kata-kata kebencanaan yang biasa dipakai di wilayah Tapanuli Tengah punya pelafalan sendiri di sini. Komunikasi dan transfer pengetahuan perlu penyesuaian.

Ketiga, dan ini yang paling berkesan oleh Mas Andi. Di tengah sesi bermain, mereka bercerita dengan lugas bahwa hutan gundul, tambang, penambangan liar, semua itulah yang membuat banjir bandang datang. Anak-anak yang mungkin dianggap belum mengerti ternyata punya kesadaran lingkungan yang tajam.

Ada momen yang tidak bisa Mas Andi lupakan. Saat itu, relawan YEU lain sedang membagikan alat bantu di sekolah sementara. Di pojok ruangan, orang tua mengantar anak-anak mereka dan di tengah semua kesibukan itu, anak-anak duduk melingkar di depan Putpatcamat karena antusias ingin bermain.

Guru-guru yang memberikan testimoninya bahwa Putpatcamat ini berbeda. Sebelumnya meskipun sudah ada sosialisasi kebencanaan baik dari sekolah, dari Puskesmas, tetapi siswa lebih banyak diam, interaksi yang minim dan pasif. Dengan Putpatcamat, anak-anak sangat antusias dan senang. Suasana jadi lebih hidup.

Para orang tua punya permintaan sederhana setelah melihat itu semua: “Lain kali jangan hanya untuk anak-anak, Pak, kami juga mau bermain dan belajar,” pungkas salah satu warga.

Dampak psikososial dari respons ini tentu tidak datang dalam sekejap, ia datang dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, ada satu momen ketika Mas Andi berpapasan dengan anak-anak yang sudah pernah bermain Putpatcamat, mereka lalu berlari kecil ke arahnya dan berteriak: “Ayo main Putpatcamat lagi, Pak!”

Kalimat itu pendek. Tapi bagi Mas Andi dan bagi siapapun yang pernah bekerja di situasi krisis, anak-anak yang mau berteriak lagi, berlari lagi, dan mengajak bermain lagi adalah tanda paling jujur bahwa sesuatu yang penting sudah kembali yaitu rasa aman.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Kecamatan Peusangan ...

Di sebuah sudut Dusun Tiro, Desa Ujong Blang, Kecamatan Kuta ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.