Mbok* Yem, seorang ibu tunggal di Gunungkidul, terjerat utang bank keliling demi menyekolahkan anaknya setelah gagal panen akibat kekeringan. Keuletannya mengolah sampah menjadi pupuk organik, membawanya keluar dari jerat utang.
Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta berada di kawasan perbukitan. Masyarakat di sana sebagian besar hidup dari bertani dan beternak. Setiap hari mereka beraktivitas dengan bekerja di ladang untuk mencari pakan ternak atau ke sawah untuk bercocok tanam.
Di Desa Ngalang inilah mbok Yem, seorang perempuan paruh baya, tinggal bersama anak gadis semata wayangnya yang biasa ia panggil Genduk* Tari. Suami mbok Yem, sudah lama meninggal karena itu ia harus bekerja seorang diri setiap hari untuk mencukupi kebutuhannya bersama anaknya.
Tiap hari Mbok Yem bangun pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak gadisnya.
“Nduk Tari! Sudah azan subuh. Ayo bangun nak,” mbok Yem membangunkan putri kesayanganya.
“Sebentar tho mbok,” jawab Genduk Tari.
“E sudah siang nanti kamu kesiangan, salat subuh sana,” ucap mbok Yem.
“Iya iya mbok,” balas Tari.
Genduk Tari bergegas bangun dan menjalankan salat subuh. Sementara itu mbok Yem, yang sudah salat lebih awal, langsung ke dapur menyalakan api di tungku perapian. Ia bergegas menyiapkan sarapan dan bekal untuk putrinya.
Matahari sudah terbit, waktunya Genduk Tari berangkat sekolah dengan bekal tempe goreng garit, sambal terasi, sayur daun pepaya, dan tiwul uleng yang rasanya mak nyus. Tiwul uleng ini makanan populer di Gunungkidul dan sekitarnya yang merupakan campuran antara nasi putih dan tiwul dari singkong kering.
“Mbok, aku mangkat yo. (Bu, aku berangkat ya),” Tari berpamitan pada mbok Yem.
“Ya Nduk hati-hati ya,” jawab mbok Yem.
Setelah putrinya berangkat sekolah mbok Yem pun bergegas berangkat ke sawah. Sawah yang ia sewa dari saudaranya itu luasnya sekitar 500 meter persegi. Di atas tanah itu mbok Yem menanam padi sendirian. Dari mulai mencangkul, kemudian menanam bibit padi, menyiangi rumput dan gulma hingga memanennya, semua dilakukannya seorang diri. Tak ada orang lain yang membantunya.
Suatu ketika sudah beberapa minggu tidak turun hujan. Mbok Yem tampak murung, dalam hati dia berkata, ”Duh Gusti Allah, pariku wis dho garing gek arep kepiye iki? (Ya Allah, padiku sudah mulai kering, aku harus bagaimana ini?”
Tanah sawahnya sekarang lebih cepat kering dan tidak subur lagi, hujan pun tak kunjung datang. Musim kemarau berlangsung lebih lama, suhu udara terasa lebih panas dan kering dari tahun-tahun sebelumnya. Mbok Yem tidak tahu kenapa kemarau saat ini terasa lebih panas dan kering.
Selama ini mbok Yem melihat banyak para petani yang sudah tidak memakai pupuk kandang lagi. Mereka lebih suka menggunakan pupuk pabrikan (pupuk kimia) karena anggapan dengan memakai pupuk pabrik tanaman lebih subur dan cepat berbuah.
Namun kenyataannya sekarang kondisi tanah justru malah lebih padat, tidak gembur dan sawah lebih cepat kering serta tidak bisa menyimpan air lebih lama. Akibatnya tanaman lebih cepat kering dan mati, yang pada akhirnya menyebabkan hasil panen berkurang bahkan gagal panen. Mbok Yem gelisah dengan situasi ini.
Hari sudah siang, waktunya mbok Yem pulang ke rumah. Ia berjalan kaki sambil menggendong satu bongkok kolonjono, tanaman rumput pakan ternak, untuk diberikan kepada kambing kesayangannya. Selain bercocok tanam, mbok Yem juga memelihara kambing milik Pak Tanto, tetangganya.
Sampai rumah tak lama kemudian Genduk Tari pun juga pulang dari sekolah.
“Assalamualaikum mbok, aku mulih, (Bu, aku pulang),” seru Genduk Tari.
“Alhamdulillah,” jawab mbok Yem.
“Mbok seminggu lagi aku ujian semesteran lho, mbok,” kata Genduk Tari.
Mbok Yem langsung terdiam dan dalam hati berkata, “Berarti harus segera bayar SPP.”
Sementara hasil panen kali ini untuk keperluan makan sehari-hari saja tidak cukup, padahal ia juga harus segera membayar SPP anaknya.
“Darimana aku bisa dapat uang untuk bayar SPP anakku?” mbok Yem berkata dalam hati.
Mbok Yem lalu berkeliling ke rumah teman-temannya mengharap pertolongan mereka untuk meminjaminya uang guna membayar SPP anaknya. Namun tak satu pun temannya yang bisa menolongnya.
Saat di tengah jalan dari rumah temannya, mbok Yem bertemu seorang laki-laki dengan penampilan menarik dan elegan. Laki-laki itu menghampiri mbok Yem, mengajaknya berbincang dan akhirnya menawarkan “pertolongan”.
Sebut saja namanya Bang Cit. Bang Cit mau memberikan pinjaman sejumlah uang kepada mbok Yem dengan kewajiban mbok Yem harus mengangsur tiap minggu dengan jumlah yang sudah ditentukan.
Mbok Yem sadar pinjaman ini memberatkan dirinya, namun apa boleh buat tak ada yang bisa menolongnya selain pinjaman ini. Selama ini dari hasil panen untuk mencukupi keperluan sehari hari saja tidak cukup, apalagi harus menyisihkan uang untuk bayar SPP.
Mbok Yem juga tidak bisa meminjam ke koperasi karena ia bukan anggota koperasi di desanya. Jika mau pinjam ke koperasi, ia harus menjadi anggota terlebih dahulu. Sementara untuk menjadi anggota ia harus membayar simpanan pokok dan simpanan wajib.
Masalah SPP anaknya akhirnya sudah bisa teratasi. Namun sekarang tiap hari mbok Yem harus berjalan dari rumah ke rumah mengambil cucian agar mendapat penghasilan tambahan untuk melunasi utangnya.
Mbok Yem juga harus berjalan ke sungai besar untuk mencuci baju-baju itu, kemudian menyetrika dan mengantarkannya kembali ke pemiliknya. Dari kerja keras yang dilakoninya itu, ia hanya mendapat upah seadanya.
Upah itu dipakai untuk membayar utang. Hasil jerih payahnya tak bisa ia nikmati, karena hanya untuk membayar utang dengan bunga tinggi.
Suatu Ketika mbok Yem duduk di belakang rumahnya. Dia melihat begitu banyak sampah daun-daun yang ada di sekitar rumahnya. Dalam hati ia berpikir, seandainya saja aku bisa mengubah sampah-sampah ini menjadi pupuk organik yang lebih aman digunakan mungkin kondisi alam tidak sepanas ini. Kondisi tanah lebih gembur dan lebih lembab. Sawah tidak cepat kering sehingga padi tidak mudah mati. Hasil panen mungkin akan lebih baik sehingga aku tidak perlu berutang lagi.
Mbok Yem menyampaikan gagasannya ke seorang temannya, yu Tun. Awalnya hanya satu teman yang merespons. Bersama yu Tun, mbok Yem, berinisiatif mengubah sampah-sampah daun menjadi pupuk organik.
Pupuk organik dinilai lebih aman untuk menjaga tingkat kelembapan dan kesuburan tanah. Mbok Yem akhirnya terus bercerita dan bercerita lagi pada teman-temanya yang lain. Karena untuk mewujudkan cita-citanya ini mbok Yem butuh dukungan ibu-ibu di sekitarnya.
Setelah merasa mendapat banyak dukungan dari teman-temannya, mbok Yem pun berinisiatif untuk bersama-sama berlatih membuat pupuk organik. Namun ada saja kendala yang dihadapi karena pelatihan itu butuh dukungan biaya.
Mbok Yem berembuk dengan teman-temannya. Ia memetakan persoalan yang dihadapi perempuan seperti dirinya dan perempuan lain di desanya. Kekeringan yang menyebabkan gagal panen membuat perempuan memiliki beban ganda. Hasil panen yang tidak mencukupi kebutuhan, membuat perempuan terpaksa berutang sehingga menimbulkan masalah baru.
Atas dasar itu, mbok Yem bersama-sama temannya mencoba membuat sebuah proposal untuk diajukan ke sebuah LSM bernama YEU, YAKKUM Emergency Unit, di Yogyakarta. Harapannya mereka bisa mendapat dukungan dana untuk kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik.
Kebetulan beberapa minggu sebelumnya mbok Yem dan yu* Tun mengikuti pelatihan kepemimpinan perempuan yang diadakan oleh YEU di Yogyakarta. YAKKUM Emergency Unit merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan terutama bidang kebencanaan. Dari pengalaman mbok Yem, YEU sangat peduli terhadap berbagai bencana akibat perubahan iklim.
Mbok Yem berharap pupuk organik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan para petani di dusun mereka. Selain itu keterampilan mengolah sampah menjadi pupuk bisa ditularkan kepada masyarakat luas supaya makin banyak yang memakai pupuk organik.
Dengan begitu kesuburan tanah terjaga dan tanah tetap bisa menyimpan air lebih lama sehingga padi bisa tetap tumbuh subur walaupun curah hujan sedikit. Jadi hasil panen bisa melimpah, perekonomian meningkat dan tidak ada lagi beban ganda bagi perempuan. Perempuan lebih sejahtera, bisa mencukupi kebutuhan, dan terbebas dari utang.
Setelah melalui proses perjuangan untuk mengumpulkan data-data kerentanan, akhirnya proposal disetujui oleh YEU. Pelatihan pembuatan pupuk organik pun bisa terlaksana dengan baik
Mbok Yem bersama teman-temannya mendapat ilmu baru pembuatan pupuk kompos dari sampah organik dan pupuk cair dari limbah sisa dapur. Kedua pupuk ini sangat bagus untuk digunakan, selain itu mbok Yem dan teman-temanya juga mendapat ilmu baru tentang adaptasi iklim.
Setelah berhasil membuat pupuk organik itu mbok Yem langsung mempraktikkannya. Pupuk itu digunakan untuk memupuk padi di sawah dan alhamdulilah hasil panennya meningkat. Akhirnya mbok Yem bisa melunasi utangnya di bank keliling.
Kebahagiaan mbok Yem bertambah saat mendengar kabar baik dari anaknya.
“Mbok, simbok, aku entuk hadiah mbok. (Bu, aku dapat hadiah),” teriak Tari.
“Hadiah opo nduk. (Hadiah apa, nak)?” jawab mbok Yem.
“Lihat raporku mbok, aku juara 1, aku dapat hadiah tas dari pak guru,” sahut Genduk Tari.
“Alhamdulillah simbok seneng nduk, selamat yo nduk, mugo-mugo uripmu tansah bejo ndunyo akhirat ya nduk. (Ibu senang, selamat ya nak, semoga hidupmu selalu beruntung dunia dan akhirat,” ucap mbok Yem.
*Mbok adalah sapaan hormat kepada perempuan yang lebih tua atau Ibu.
*Genduk adalah sebutan atau panggilan dalam bahasa Jawa kepada anak perempuan yang disampaikan dengan rasa sayang atau akrab .
* Yu adalah kata sapaan atau singkatan dari mbakyu, yang berarti kakak perempuan.
Tulisan ini merupakan kolaborasi YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan Konde.co dalam program #Kedip atau Konde Literasi Digital Perempuan
Editor: Anita Dhewy
Penulis: Ine Indriyani
Sehari-hari berprofesi sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan aktif di Kelompok Manthili Tangguh di Desa Ngalang, Gunungkidul, Yogyakarta.