Bu Warsilah masih ingat betul bagaimana dirinya dulu tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Beliau sehari-harinya sebagai petani perempuan dari Girijati, Gunungkidul ini menceritakan bagaimana kelompok taninya dapat berdiri bersama pegiat kemanusiaan se-Asia Pasifik, menceritakan bagaimana kelompoknya mengubah cara berpikir hingga mengambil keputusan bersama.
Desember 2025, Bu Warsilah berangkat mewakili Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Padukuhan Watugajah, Kalurahan Girijati, Purwosari, Gunungkidul bersama inovator lainnya untuk mewakili YAKKUM Emergency Unit dalam Regional Humanitarian Partnership Week (RHPW) 2025, sebuah konferensi kemanusiaan regional bertema “Menata Ulang Kemanusiaan untuk Dunia yang Berubah.” Di sana, bersama inovator komunitas dari berbagai negara Asia Pasifik, ia berbagi cerita tentang inovasi PAPAH MEWAH (Pengelolaan Sampah Melati Watugajah) sebagai sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang menyatukan upaya perlindungan lingkungan melalui pengumpulan, pemilahan dan daur ulang sampah plastik serta pemberdayaan ekonomi bagi anggotanya.
Bu Warsilah bercerita hal yang paling berkesan ialah ketika momen ia belajar dari pengalaman kelompok lainnya tentang kepemimpinan perempuan. Juga bercerita bagaimana PAPAH MEWAH lahir dari ide, diskusi hingga pengambilan keputusan bersama dengan melibatkan kelompok berisiko seperti perempuan, lansia, orang dengan disabilitas, pemuda dan lainnya.

Dampaknya nyata, kini KWT Melati terus berkembang dan menjadi tempat pembelajaran di Kalurahan Girijati. Lahan yang dulunya mengandalkan pupuk kimia kini beralih ke pertanian organik secara bertahap.
“Inovasi lokal yang lahir dari kesepakatan bersama, dari suara dan kepemimpinan perempuan itu bisa menjadi pelajaran bagi dunia,” kata Bu Warsilah.
Bahwa rasa kepedulian terhadap mereka tidak boleh memilah siapa yang layak dan siapa yang tidak. Bahwa bantuan kemanusiaan adalah soal hati nurani, bukan hanya soal prosedur. Nilai ini, bagi Warsilah juga menjadi cara bagaimana KWT Melati bersama-sama dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Bu Warsilah berpesan bahwa inovasi lokal yang lahir dari kesepakatan bersama, suara dan kepemimpinan perempuan bisa menjadi pelajaran bagi dunia kemanusiaan.
