Dari Girimulyo ke Bangkok Thailand: Musidah Berbagi Semangat Hadapi Kekeringan Bersama Kelompok Perempuan Mulyo Mandiri

Forum CRPP 2025 digelar di Bangkok, Thailand, pada Februari 2025 dan mengundang seluruh organisasi yang terlibat dalam proyek tersebut. Proyek yang menempatkan kelompok perempuan akar rumput untuk memimpin secara kolektif dalam atasi kemisikinan dan dampak perubahan iklim. Proyek yang didukung oleh Huairou Commission dan didanai oleh Asian Development Bank ini melibatkan kelompok-kelompok perempuan di Gunungkidul seperti Cahyo Tangguh, Kelompok Perempuan Tangguh (KPT) Jurangjero, Perempuan Tangguh (PT) Mertelu, Harjo Manunggal, dan Mulyo Mandiri.

Musidah selaku wakil dari Mulyo Mandiri berkesempatan untuk mengikuti acara tersebut. Dalam forum tersebut ia terlibat dalam penggalian data dan survei terkait perubahan iklim yang dilakukan oleh Regional Integrated Multi-Hazard Early Warning System (RIMES). Ia dan Ika Rachmani dari kelompok Harjo Manunggal berkesempatan untuk menceritakan kondisi di Gunungkidul yang juga terdampak perubahan iklim. Dampak tersebut tentunya sangat dirasakan oleh masyarakat Gunungkidul, khususnya pada musim kemarau. Kekeringan telah lama menjadi masalah yang berulang di wilayah ini, tetapi perubahan iklim telah memperparah masalah tersebut. Di masa lalu, masyarakat dapat beradaptasi dengan menanam tanaman tertentu selama periode curah hujan berkurang. Namun, dalam kondisi saat ini, mereka kesulitan untuk memprediksi waktu yang tepat untuk menanam padi dan tanaman lainnya, yang menyebabkan kegagalan panen dan musim kemarau yang lebih panjang dan tidak dapat diprediksi.

 

Pembelajaran Bagi Musidah dan Masyarakat Girimulyo

Dalam wawancara yang dilakukan oleh tim YEU, Musidah merefleksikan pengetahuan yang ia dapatkan dari berpartisipasi dalam survei Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya Terpadu Regional (RIMES) dan Forum CRPP di Bangkok. Ia merefleksikan cerita-cerita dari berbagai negara, rupanya perubahan iklim itu nyata dirasakan oleh banyak orang, sehingga memang pencegahan perlu dilakukan di tingkat akar rumput mulai dari sekarang.

Ia juga belajar bagaimana di negara lain pemanfaatan lahan tanam yang terbatas dapat dilakukan, sehingga ia mencoba menerapkan hal itu di lingkup dusunnya. Kini ia mampu mengajak teman-teman Kelompok Wanita Tani di dusunnya untuk memanfaatkan polybag atau botol galon bekas sebagai media untuk menanam tanaman sayuran di pekarangan masing-masing. Ia menamai program ini Gertamsu (Gerakan Tanam Sayuran) yang diaplikasikan di pot kecil, polybag, atau galon bekas. Hal ini bertujuan agar dapat memenuhi kebutuhan sayur atau cabai di masyarakat, sehingga mereka tidak perlu membeli.

Dalam hal ketangguhan ekonomi, Musidah mencoba menerapkan sistem keuangan inklusif yang terinspirasi dari salah satu negara yang berpartisipasi dalam CRPP Forum. Di negara tersebut, beberapa daerah menawarkan akses yang lebih mudah terhadap pinjaman uang, yang memungkinkan anggota masyarakat meminjam uang tanpa agunan untuk mengembangkan usaha kecil. Musidah kini sedang merintis model serupa melalui kelompok Tri Manunggal di desanya. Hal ini mulai Musidah terapkan melalui kelompok Tri Manunggal di dusunnya.

Model keuangan inklusif ini beroperasi melalui kelompok tabungan, di mana para anggotanya dapat meminjam dari dana kolektif. Sistem pinjaman dirancang agar mudah diakses, dengan iuran jasa yang rendah dan prosedur sederhana, dengan mengandalkan rasa saling percaya, bukan persyaratan formal seperti materai atau dokumen resmi.

 

---------------

Penulis: Devina Prima Kesumaningtyas - Staf Informasi dan Komunikasi