Menyuarakan Suara Komunitas di Panggung Global: Refleksi dari GPDRR 2025

Pada awal Juni 2025, YAKKUM Emergency Unit (YEU) hadir dalam forum internasional Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang diselenggarakan oleh UNDRR di Jenewa, Swiss. Forum ini menjadi titik temu para aktor kemanusiaan, pemerintah, akademisi, dan komunitas global untuk mengevaluasi dan memperkuat komitmen bersama dalam Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Kerangka Kerja Sendai untuk PRB 2015–2030 adalah kesepakatan global yang menjadi panduan bagi negara, masyarakat sipil, dan pelaku pembangunan dalam mengurangi risiko dan dampak bencana. Kerangka kerja ini menekankan pentingnya pengelolaan risiko bencana yang proaktif, berbasis bukti, dan inklusif.

Kerangka Kerja Sendai untuk PRB memiliki empat prioritas aksi:

  1. Memahami risiko bencana, termasuk melalui data, analisis, dan edukasi publik.

  2. Memperkuat tata kelola risiko, termasuk kerangka hukum dan koordinasi multipihak.

  3. Berinvestasi dalam pengurangan risiko untuk ketangguhan dengan mendanai infrastruktur, sistem peringatan dini, dan perlindungan sosial.

  4. Meningkatkan kesiapsiagaan dan respons yang efektif, serta pemulihan yang lebih baik (build back better)

Selain itu, Kerangka Kerja Sendai untuk PRB menetapkan tujuh target global yang terukur untuk dicapai hingga 2030:

  1. Mengurangi korban jiwa secara signifikan akibat bencana.

  2. Mengurangi jumlah orang terdampak secara global.

  3. Mengurangi kerugian ekonomi langsung terkait bencana terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

  4. Mengurangi kerusakan terhadap infrastruktur penting dan gangguan layanan dasar (kesehatan, pendidikan, dll).

  5. Meningkatkan jumlah negara yang memiliki strategi pengurangan risiko bencana di tingkat nasional dan lokal.

  6. Meningkatkan kerja sama internasional untuk negara berkembang dalam pengurangan risiko bencana.

  7. Meningkatkan akses sistem peringatan dini dan informasi risiko bencana bagi semua orang.

Gambar 1. YEU membagikan pengalaman dan rekomendasi di sesi Early Warning for All GPDRR 2025

GPDRR 2025 merupakan forum resmi untuk meninjau kemajuan implementasi Kerangka Kerja Sendai untuk PRB di tingkat global. Tahun ini, fokus utama adalah pada akselerasi pengurangan risiko bencana melalui pendekatan transformatif dan inovatif, dengan perhatian khusus pada masa depan generasi muda dan kelompok paling berisiko.

Salah satu pesan utama GPDRR 2025 adalah perlunya mengarusutamakan suara dan aksi komunitas lokal dalam strategi nasional maupun global, serta menjembatani pengetahuan tradisional dengan teknologi dan kebijakan publik.

Refleksi: Ketika Suara Lokal Dibawa ke Panggung Global

Salah satu momen penting selama GPDRR 2025 adalah pertemuan bersama Bapak Kamal Kishore, Special Representative of the UN Secretary-General for Disaster Risk Reduction sekaligus co-chair GP2025. Dalam dialog tersebut, kami menyampaikan secara langsung praktik baik pendampingan kelompok di tingkat komunitas dan pentingnya dukungan pendanaan langsung bagi organisasi komunitas akar rumput. Pertemuan ini dijembatani oleh Huariou Commission, di mana YEU merupakan salah satu anggota dan saat ini sedang menjalankan program Community Resilience Partnership Program (CRPP), sebuah program yang membangun ketangguhan kelompok perempuan terhadap dampak dari perubahan iklim.

Gambar 2. YEU berdialog dan berjejaring dengan mitra global di GPDRR 2025

Kami menyampaikan bahwa selama ini, inovasi komunitas sering kali terkendala oleh sulitnya mengakses pendanaan dan perlunya penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat lokal. Kami menekankan pentingnya mekanisme pendanaan yang fleksibel, adaptif, dan berbasis risiko lokal.

Kami bersyukur bahwa suara ini tidak hanya didengar, tetapi juga tercermin dalam dokumen resmi Co-Chairs Summary dari GP2025, khususnya dalam poin nomor 23, yang secara tegas menyatakan:

"Pendanaan pengurangan risiko bencana yang terdesentralisasi memungkinkan pendanaan menjangkau aktor lokal berdasarkan profil risiko, dengan memprioritaskan konteks yang rapuh dan rentan. Hal ini harus mendukung kapasitas kelembagaan untuk menilai risiko, merencanakan dan melaksanakan PRB, serta mengelola keuangan di tingkat subnasional. Praktik baik dalam merancang bersama program antara lembaga keuangan dan organisasi berbasis komunitas harus dipromosikan dan diperluas untuk meningkatkan akses langsung pendanaan lokal. Pemerintah harus semakin berkomitmen untuk menyisihkan persentase pendanaan bilateral dan multilateral guna mendukung inisiatif PRB yang dipimpin secara lokal."

Rekomendasi ini menjadi langkah maju yang sangat penting, membuka peluang untuk sistem pendanaan yang lebih adil, berbasis bukti, dan berpihak pada komunitas yang paling terdampak.

Membawa Inovasi dari Komunitas ke Panggung Dunia

Di dalam rangkaian acara GP2025, YEU terpilih menjadi salah satu pembicara dalam sesi Ignite Stage lewat nota konsep berjudul Membangun Ketahanan Bencana yang Dipimpin Secara Lokal melalui Kemitraan Inovasi yang Dipimpin Masyarakat. Melalui inisiatif Community-Led Innovation Partnership (CLIP) yang dijalankan bersama mitra inovator lokal sejak 2021, YEU menunjukkan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi nyata untuk pengurangan risiko yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam sesi ini, YEU menyampaikan beberapa contoh dari inovasi IDEAKSI, seperti:

  • Karang Taruna Prima Gadung dengan inovasi Bambu Jawa Jahit Bumi untuk mitigasi longsor di wilayahnya

  • Dapur umum bergerak untuk respons cepat saat bencana,

  • Permainan edukatif inklusif untuk anak-anak penyandang disabilitas,

  • Irigasi kabut cerdas untuk efisiensi air bagi petani,

  • Serta inovasi pertanian ramah lingkungan untuk mitigasi kekeringan.

Semua ini menunjukkan bahwa komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi aktor utama perubahan. Peran YEU sebagai Hub Inovasi melalui IDEAKSI adalah menguatkan kapasitas inovator, menghubungkan dengan ahli teknis untuk menajamkan inovasi, dan menjembatani akses untuk berjejaring dengan aktor kemanusiaan dan penanggulangan bencana yang ada di Indonesia.

Gambar 3. YEU berkesempatan membagikan praktik baik komunitas di Ignite Stage GPDRR 2025

Selain tampil di Ignite Stage, YEU juga mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu panelis dalam Ministerial Roundtable GPDRR 2025. Sesi ini mengangkat tema Innovation and Strategic Foresight for Disaster Risk Reduction dan menjadi salah satu forum paling strategis dalam GPDRR, karena mempertemukan para pengambil kebijakan dari pemerintahan, lembaga multilateral, hingga perwakilan masyarakat sipil di tingkat global. Di ruang ini, negara-negara melaporkan pendekatan dan inovasi transformatif dalam pengurangan risiko bencana (PRB), serta membahas bagaimana pandangan jangka panjang dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan aksi nyata.

YEU hadir untuk membawa pengalaman komunitas di Indonesia, khususnya melalui inisiatif CLIP. Dalam kesempatan tersebut, kami menyampaikan empat rekomendasi utama yang lahir dari praktik di lapangan:

  1. Akui dan libatkan kepemimpinan komunitas secara bermakna dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program PRB.

  2. Berikan pendanaan yang fleksibel untuk memungkinkan komunitas melakukan uji coba, pembelajaran, dan adaptasi inovasi secara berkelanjutan.

  3. Perkuat kapasitas teknis dan kepercayaan diri komunitas, agar mereka dapat mengelola risiko secara mandiri dan berkelanjutan.

  4. Bangun kemitraan setara antara komunitas dan pemangku kepentingan lain, seperti akademisi, pemerintah, media, dan sektor swasta, agar solusi lokal dapat menjadi bagian dari kebijakan nasional dan bahkan global.

Keterlibatan YEU dalam forum ini tidak hanya mengangkat praktik baik dari Indonesia, tetapi juga menegaskan posisi komunitas sebagai pusat dari strategi PRB yang inklusif dan berorientasi masa depan.

Dalam beberapa sesi panel dan diskusi kelompok, kami juga menekankan pentingnya:

  • Penguatan sistem peringatan dini dan aksi antisipasi yang inklusif berbasis masyarakat,

  • Pengarusutamaan kelompok berisiko dalam kebijakan PRB,

  • Dan menjembatani inovasi komunitas dengan dukungan teknis dan kebijakan nasional.

Gambar 4. YEU menjadi salah satu panelis dalam Ministerial Roundtable GPDRR 2025 

Selain aktif dalam sesi-sesi di GP2025, YEU sebagai bagian dari Delegasi Republik Indonesia juga berkesempatan melakukan pertemuan bilateral dengan tim dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA) untuk mendiskusikan sinergi lebih lanjut antara inisiatif lokal dan sistem koordinasi kemanusiaan global. Pertemuan ini dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, untuk membahas perluasan kerja sama kawasan ASEAN, penguatan klaster nasional, dan kolaborasi dengan sektor swasta dalam pengurangan risiko bencana. 

GPDRR 2025 memberi kami ruang untuk belajar, berbagi, dan memperkuat posisi YEU sebagai bagian dari ekosistem global dalam pengurangan risiko bencana. Kami pulang dengan semangat baru untuk memperluas kemitraan, memperkuat inovasi lokal, dan mendorong pengakuan terhadap suara dan peran komunitas akar rumput.