Menjadi Frist Responder yang Tanggap, Tangkas, Tangguh, dan Inklusif Bersama Sasana Relawan YEU

Setiap tahunnya tanggal 5 Desember diperingati sebagai hari relawan sedunia. Dalam rangka peringatan Hari Relawan Sedunia, YAKKUM Emergency Unit (YEU), bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DIY) menggelar Sasana Relawan. Kegiatan ini ditujukan kepada seluruh relawan-relawan di DIY, khususnya yang terlibat dalam pengurangan risiko bencana. Kegiatan ini diadakan pada 12 Desember 2023, di JNM Bloc, Kota Yogyakarta. 

Dalam sambutannya Drs. Noviar Rahmad, M.Si selaku Kepala BPBD DIY menyebutkan bahwa relawan kebencanaan harus memiliki kapasitas yang cukup, sehingga peningkatan kapasitas dan pelatihan meupakan hal yang perlu dilakukan. Hal tersebut bermanfaat untuk menyiapkan masyarakat Yogyakarta (DIY) yang tangguh bencana. 

Demikian juga yang disampaikan oleh dr. Sari Mutia Timur terkait upaya pengurangan risiko bencana yang inklusif yang telah dilakukan oleh YEU bersama masyarakat. Acara ini diharapkan dapat menjadi tempat para relawan untuk berbagi cerita dan pengalaman saat menghadapi situasi tanggap darurat. Selain itu, sesuai dengan salah satu mandat YEU dalam pengurangan risiko bencana, melalui kegiatan ini diharapkan relawan dapat memperoleh edukasi tentang perubahan iklim yang berdampak pada risiko bencana hidrometerologi.

Kelas Relawan 

Menjadi relawan yang tanggap, tangkas, dan tangguh, tentunya membutuhkan kapasitas yang cukup. Namun, kenyataannya di masyarakat kita masih banyak kelompok atau komunitas relawan yang belum terkapasitasi dengan baik. Kegiatan kerelawanan tidak cukup hanya dengan niat dan kemauan, namun juga diperlukan pengetahuan yang cukup, sesuai dengan bidang yang ditekuni.

Kelas relawan memberikan kesempatan bagi para relawan untuk mengembangkan kemampuan dan kapasitas mereka agar dalam bertindak saat kedaruratan bencana terjadi dapat lebih tanggap, tangkas, dan tangguh. Terdapat beberapa kelas yang diadakan pada kegiatan ini, seperti penanganan hewan buas, vertical rescue, evakuasi air, penanganan pohon tumbang, penanganan kebakaran, evakuasi bagi kelompok berkebutuhan khusus, penanganan penderita gawat  darurat dan manajemen dapur umum. Pelatihan tersebut melibatkan instansi, komunitas, dan praktisi yang berpengalaman di bidangnya, seperti  Badan Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Bantul, Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Dinas Sosial Kota Yogyakarta, PMI Yogyakarta, Yayasan Sioux Ular Indonesia, Difabel Siaga Bencana (Difagana) DIY, DAMKAR Kota Yogyakarta.

Pelatihan-pelatihan tersebut didasarkan pada kondisi dilapangan, dimana ketika bahaya terjadi, masyarakat itu sendiri yang akan merespon bahaya  tersebut. Mereka harus bisa menangani bahaya tersebut agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar dan menyebabkan terjadinya bencana. 

 

Berbagi Cerita Pemenuhan Kebutuhan Kelompok Berisiko pada Situasi Bencana

Sebelum memasuki sesi ke 2 pelatihan, para relawan diundang untuk mengikuti talkshow bersama relawan kebencanaan dan kelompok perempuan, kelompok disabilitas dan pemuka agama. Talkshow ini menceritakan pengalaman para relawan dan kelompok disabilitas dalam memenuhi kebutuhan para kelompok berisiko selama situasi bencana. Talkshow ini mengundang Aslimah, selaku anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Pakembinangun sekaligus mewakili kelompok disabilitas, Tri Yanita dari POKJA Wanita Tangguh, Kristiyono Riyadi, selaku pemuka agama dan relawan gereja, serta Taufiq AR dari FPRB Provinsi DIY. Masing-masing dari mereka menjelaskan tentang aksi kerelawanan yang dapat dilakukan ketika terjadi bencana dan bagaimana pemberian bantuan yang bersifat inklusif sangat diperlukan bagi kelompok berisiko/rentan. Acara talkshow ini dipandu oleh Agustina Wardani, Kader Kesehatan Jiwa.

Dalam kesempatan ini, Aslimah menceritakan pengalamannya di tahun 2010 saat terjadi erupsi Gunung Merapi di DIY. Ia menceritakan bahwa transportasi menjadi kebutuhan yang krusial saat evakuasi berlangsung, terlebih lagi ketika tempat pengusian berpindah-pindah, mengingat saat itu jarak aman dari pucak Merapi diperluas. Ia juga menceritakan bahwa ada kebutuhan khusus terkait nutrisi bagi kelompok disabilitas. Mereka yang menggunakan kruk, maupun kursi roda, mengeluarkan tenaga lebih untuk beraktifitas biasa. Demikian juga untuk kebutuhan toilet yang aksessibel diperlukan saat di tempat pengungsian. Menurut Aslimah, kebutuhan tersebut belum terpenuhi  saat bencana 2010 lalu, alasannya karena akses kamar mandi yang terlalu jauh, dan sulit digunakan bagi pengguna kursi roda. Selain itu pemenuhan gizi bagi penyandang disabilitas harus tercukupi, karena untuk dapat beraktivitas normal, mereka memerlukan energi lebih untuk menggerakkan alat bantu mereka, seperti kursi roda atau kruk. 

Demikian juga, Yanita menyampaikan terkait kebutuhan perempuan selama di tempat pengungsian. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan bagi perempuan, khususnya untuk ibu menyusui masih belum dapat terpenuhi seperti kebutuhan ruang khusus untuk menyusui, ruang khusus untuk berganti pakaian, serta toilet yang terpisah antara perempuan dan laki-laki. Selain itu, kebutuhan nutrisi untuk Ibu hamil dan menyusui juga perlu untuk dipenuhi selama masa tanggap darurat di tempat-tempat pengungsian. 

Di kesempatan yang sama juga disampaikan praktik baik kerelawanan yang telah dilakukan oleh Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kemadang saat melakukan respon bencana di Gunungkidul. Tim Relawan GKJ Kemadang memastikan kebutuhan Ibu dan anak terpenuhi dengan baik. Jika pada umumnya bantuan pangan yang diberikan berupa mi instan, karena mudah dan cepat untuk diolah, tetapi mereka memberikan bantuan berupa bahan pangan mentah seperti sayur, telur, beras, dan sebagainya sehingga Ibu dapat menyesuaikan kebutuhan nutrisi anak mereka dan dapat mengolah bahan pangan sesuai kebutuhan. 

 

Berkomitmen Menjadi Relawan Penanggulangan Bencana yang Inklusif

Sesi talkshow ditutup dengan membacakan komitmen sebagai relawan kebencanaan yang mengedepankan prinsip kerja relawan seperti, kemanusiaan, netralitas, imparsialitas, dan independensi bersama para relawan dan seluruh peserta. Naskah komitmen relawan tersebut sebagai berikut :  

 

Komitmen Bersama
Relawan Kebencanaan di Daerah Istimewa Yogyakarta
dalam Rangka Hari Relawan Sedunia 2023 


Kami relawan penanggulangan bencana adalah seorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana. (Peraturan Kepala BNPB No 17 Tahun 2011 Tentang Pedoman Relawan Penanggulangan Bencana).  

Saat ini, kami terdiri dari  205 relawan Penanggulangan Bencana telah berkontribusi dalam segala upaya pengurangan risiko bencana dengan melakukan pemetaan risiko bencana yang inklusif, rencana aksi ketangguhan dan  tanggap darurat yang mempertimbangan kebutuhan dan akses bagi kelompok berisiko guna terwujudnya ketangguhan dan pengurangan dampak bencana.  

Kami, relawan penanggulangan bencana, berkomitmen untuk:

  1. Menaati kode etik dalam kerja kemanusiaan dengan tidak memihak pada kepentingan agama, ideologis tertentu, dan menjadi alat kepentingan politik;
  2. Melakukan penyelamatan dengan tepat dan memberikan bantuan hidup berdasarkan kebutuhan sesuai prioritas;
  3. Memastikan partisipasi yang bermakna dengan menghilangkan hambatan dan menyediakan akomodasi yang layak bagi kelompok perempuan, anak muda, lansia, organisasi disabilitas, forum PRB/tim siaga desa, dan organisasi kemanusiaan berbasis keagamaan untuk memperkuat kesiapsiagaan pada ancaman hidrometeorologi di tingkat lokal;
  4. Melakukan identifikasi kerentanan dan hambatan melalui pemilahan data berdasarkan jenis kelamin, usia, dan ragam disabilitas;
  5. Memastikan informasi risiko diterima, dimengerti dan dipahami oleh masyarakat tanpa kecuali dengan mempertimbangkan jenis hambatan dari kelompok berisiko;
  6. Mempromosikan pengetahuan dan kearifan lokal dalam tata kelola lingkungan dan ketahanan pangan dalam upaya pengurangan risiko bencana. 

Berdasarkan pemahaman dan komitmen di atas, maka kami: Mendorong sinergi pentaheliks, yaitu pemerintah, akademisi, swasta, media, dan masyarakat (termasuk di dalamnya organisasi lintas iman), untuk mewujudkan komitmen relawan dalam penanggulangan bencana yang inklusif melalui:

  1. Penguatan kapasitas dan praktik partisipasi masyarakat yang bermakna dalam tata kelola penyelenggaraan penanggulangan bencana
  2. Penguatan nilai-nilai gotong royong,
  3. Pendanaan hingga di tingkat desa untuk memperkuat aksi kesiapsiagaan,
  4. Pendokumentasian pembelajaran,
  5. Penyediaan informasi risiko yang mudah diakses, dan
  6. Jaminan keselamatan dan keamanan, termasuk perlindungan sosial bagi relawan dan penyintas.

Yogyakarta, 12 Desember 2023 

Relawan Kebencanaan di Daerah Istimewa Yogyakarta