Kelompok Perempuan Berkonsolidasi Mengidentifikasi Tantangan dan Menyusun Strategi untuk Perubahan Tata Kelola Kebencanaan

Kelompok Perempuan Berkonsolidasi Mengidentifikasi Tantangan dan Menyusun Strategi untuk Perubahan Tata Kelola Kebencanaan

Krisis iklim merugikan masyarakat dengan skala dan intensitas yang berbeda-beda. Dampak dari bencana terutama bencana iklim telah merugikan kelompok perempuan terutama karena perempuan adalah aktor terdepan yang menjaga ruang penghidupannya, seperti sumber daya alam, ternak, ladang, dan kualitas kehidupan keluarga. Perempuan menginginkan perubahan dalam tata kelola kebencanaan. Maka dari itu, kelompok perempuan akar rumput mitra YEU di Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul selama dua hari untuk menggalang informasi dan memperkuat komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan komunitas yang tangguh.

Lokakarya pemetaan komunitas dan dukungan kepemimpinan untuk perempuan dilakukan di Gunungkidul pada tanggal 19-20 September 2023 dan Kota Yogyakarta pada tanggal 5-6 Oktober 2023. Sebanyak 70 anggota kelompok perempuan 33 kelompok hadir dan, berkomitmen untuk melakukan pemetaan di komunitasnya, menyusun strategi dan rencana perubahan yang diinginkan untuk menjaga ruang penghidupan dan keluarganya dari dampak bencana yang memburuk.

Dalam lokakarya tersebut, ada tiga bagian utama yang didiskusikan bersama dengan kelompok perempuan yaitu 1) proses penguatan kepemimpinan perempuan, 2) penggalian persoalan/refleksi pengalaman perempuan, dan 3) pemetaan komunitas serta perubahan yang diinginkan dalam tata kelola kebencanaan.

Proses Penguatan Kepemimpinan Perempuan

Syarifah Anggreini, salah satu anggota kelompok perempuan mitra YEU dari Kelompok Tani Migunani membagikan pengalaman dan refleksinya setelah mengikuti Leadership Support Program yang difasilitasi oleh Huairou Commission. 

Dalam refleksinya, Syarifah Anggreini membagikan kiat-kiat untuk memperkuat kepemimpinan perempuan melalui 5 elemen dasar kepemimpinan perempuan

  1. Visi dan Nilai. Visi merupakan sebuah tujuan yang hendak dicapai kelompok secara kolektif, sedangkan nilai adalah cara kita untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap kelompok pasti memiliki visi dan nilai yang berbeda tergantung dengan kebutuhannya. 

  2. Kesepakatan dasar biasa disebut dengan komitmen. Kesepakatan dibuat di awal kegiatan bersama dengan kelompok. Kesepakatan dibuat agar membantu mempermudah jalannya sebuah kegiatan. 

  3. Menghargai dan mendukung sesama anggota. Sebagai seorang pemimpin kita tidak bisa bekerja sendiri, kita pasti membutuhkan orang lain sebagai partner. Menghargai dan mendukung adalah kunci keberhasilan kelompok. Perlu saling menghargai dan mendukung akan memperkuat satu sama lain dan menghindari perpecahan. 

  4. Menjalin sekutu dalam keberagaman. Pada dasarnya kita berada ditengah keberagaman, perlu saling menjalin mitra walaupun berbeda-beda karena itu merupakan salah satu bentuk menghargai. 

  5. Apresiasi dan partisipatif. Dalam menjalankan sesuatu perlu saling mengapresiasikan dan saling berpartisipasi secara aktif. Apresiasi merupakan bentuk saling menghargai, dan berpartisipasi dengan bebas memberikan kontribusi serta mengikuti rangkaian kegiatan adalah bentuk dari partisipatif. 

3 Keahlian yang perlu diasah:

  • Pertanyaan tujuan. Tumbuhkan rasa penasaran, ketika didalam kelompok kita perlu untuk menggali dan perlu bertanya-tanya apa yang dilakukan dalam kelompok, apa tujuan kelompok, langkah apa yang akan dilakukan dalam kelompok untuk mencapai suatu hal. Rasa penasaran dibutuhkan agar kita mengetahui apa yang benar-benar dilakukan bersama sebagai kelompok.

  • Mendengarkan secara mendalam. Seperti menghargai orang lain yang sedang berbicara. 

  • Refleksi dan apresiasi. Refleksi dilakukan untuk melihat kembali apa yang sudah kita lakukan, apa yang berguna bagi diri saya, apa yang perlu saya perbaiki dalam diri saya. Sedangkan apresiasi dilakukan untuk menghargai apapun yang sudah dilakukan baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. 

 

Penggalian Persoalan/Refleksi Pengalaman Perempuan

Sesi ini difasilitasi oleh delapan co-fasilitator untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi oleh perempuan menggunakan metode Feminist Participatory Action Research (FPAR). Penggalian dimulai dengan pengenalan kembali tentang perbedaan jenis kelamin dan gender melalui pembagian kerja, identifikasi pengambilan keputusan, refleksi diri perempuan dalam keluarga dan komunitas. 

Dari penggalian persoalan ini, perempuan menggali berbagai ketidakadilan yang disebabkan oleh perbedaan gender dan jenis kelamin yang menghambat perempuan untuk berdaya dan berpartisipasi dalam proses-proses pengambilan keputusan yang berdampak pada kapasitas perempuan dalam menghadapi bencana. 

Ketidakadilan yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin dan gender antara lain beban ganda, kekerasan berbasis gender, pelabelan, stereotip, dan  Tidak hanya ragam ketidakadilan, namun peserta mengidentifikasi kemahiran yang dimiliki oleh perempuan dan kelompok perempuan yang menjadi nilai tambah utama dalam mewujudkan ketangguhan masyarakat. 

Pemetaan Komunitas serta Perubahan yang Diinginkan dalam Tata Kelola Kebencanaan

Kelompok perempuan mengidentifikasi bencana yang mengancam antara lain banjir, gagal panen, kekurangan air dan pakan ternak, hama kera ekor panjang, tanah longsor, darurat sampah, polusi udara, erupsi Merapi, dan kebakaran. Bencana ini rawan terjadi karena adanya faktor alam (terutama krisis iklim) yang berlangsung yaitu hujan ekstrim, kemarau panjang, dan erupsi gunung berapi. 

Hal ini menjadi semakin mengancam ketika berpadu dengan lemahnya tata kelola yang memicu bencana, seperti rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah, tidak tersedianya peraturan pengelolaan sampah mandiri, rendahnya kualitas benih yang adaptif, degradasi kualitas tanah pertanian, tidak tersedianya sumber mata air bawah tanah dan teknologi untuk mengairkan air, pembangunan hotel dan pengembangan tempat wisata, serta penebangan pohon besar-besaran.

Perubahan yang diinginkan untuk mengatasi persoalan dan dampak yang dihadapi perempuan antara lain tersedianya pengelolaan sampah dan peraturan yang mewadahinya, pelestarian lingkungan dengan kesadaran dan perilaku hemat air, mengurangi pupuk dan obat kimia untuk pertanian, tersedianya peraturan pengelolaan sumber daya alam, tersedianya tim siaga bencana yang memperhatikan kebutuhan kelompok berisiko dan terlatih, serta tersedianya sistem peringatan dini yang mudah dipahami oleh semua kelompok masyarakat.