• Sign Up
  • |
  • Login

Refleksi Singkat dari Seorang Relawan Pasca Ledakan Bom di Surabaya

By Admin | Senin, 28 Mei 2018 | 264 views

“Ada banyak orang dengan kedamaian hati  yang bila terus disuarakan akan memadamkan bara perpecahan yang hendak dikobarkan.”

Sebuah refleksi singkat dari seorang relawan gereja pasca ledakan bom yang terjadi di Gerejanya

 

"Nama Saya Muhammad"

Hari kemarin itu memang dimulai dengan keenganan membawa charger HP. Rasanya saya Cuma akansebentar kegereja lalu balik rumah lagi. Mungkin itu rencana Tuhan bagi saya. Saat sosmed (social media) menjadi  ribut, saat telpon menjadi sering berbunyi entah itu telpon, entah itu WA voice call, ada juga yang WA video call. Sambung menyambung rasanya.Mau tidak diterima, saya merasa init anggungjawab saya sebagai ketua majelis dari Gereja  yang  sedang jadi sorotan. Mau semuanya di terima, itu mengganggu konsentrasi saya. Mau terus pakai  HP, saya juga sadar kalau saya tidak bawa charger dan charger yang saya pakai bukan tipe yang banyak dipakai.

Takut kehabisan baterai, ini yang membuat saya lebih konsentrasi untuk bisa mendampingi  korban ledakan bom. Diawali dengan evakuasi semua jemaat menuju tempat  yang ditunjuk polisi, membubarkan mereka, mengantar pulang beberapa jemaat. Balik ke TKP, ada lagi keluarga  korban yang bingung mencari tempat perawatan korban. Saya hanya berusaha mengantar mereka ke Rumah Sakit untuk meneduhkan hati mereka.

Memang sejuta rasa seharian itu.Ada bela rasa yang kuat untu kmendamping ikeluarga korban. Ada kebingungan dengan telpon yang meminta ikut menyambut pejabat  yang mau ke TKP. Sempat ada juga curiga berlebih saat ada yang minta info dengan alas an akan memberikan sumbangan. Ada juga rasa gemas saat dengar gonjang-ganjing  di sosmed yang liar. Ada rasa haru yang memuncak saat mendengar empati  yang  tulus dari Ibu Walikota.

Melihat parahnya luka korban dan potongan logam yang berhasil diangka tdari tubuh korban, ini bias memicu perasaan lain yang liar. Benarkah nilai-nilai kebaikan itu telah sirna?

Dokter yang menangani korban memang seorang teman lama yang  beberapa saat lalu juga mengobati saya. "Beberapa minggu in ikondis isaya drop, baru hari ini saya merasakan kesehatan yang baik, ternyata Tuhan memberikannya sehingga saya bias membantu korban". Tiga minggu yang lalu memang saya menjenguknya dengan pertanyaan, "Dokter juga bias sakit ya?"Operasi yang dilakukannya adakah operasi pertama setelah beberapa saat beliau sakit.Tuhan memulihkan kesehatannya untuk menghadirkan kesehatan bagi sesamanya.

Saat duduk di ruang tunggu karena sterilisasi ruangan dalam rangka kunjungan pejabat tinggi negara, saya berbincang dengan ibu-ibu dar iPolsek Tegalsari  yang hadir memberikan perhatiannya. Kepedulian yang indah melebihi nilai dari buah-buahan yang mereka bawa.Saa tibu-ibu itu masuk, ada juga Bapak yang tidak saya kenal sebelumnya, yang menyampaikan keprihatinannya dengan bantuan dari Yayasan Hainan Peduli untuk disalurkan pada keluarga korban.

Kalau mungkin bimbang itu pernah muncul, rasanya sirna saat melihat dan merasakan perhatian mereka-mereka ini.

Malam saat proses administrasi korban mulai dikerjakan, diperlukan banyak foto kopi beberapa berkas: Kartu BPJS, Surat Eligibilitas Pasien dan Surat keterangan. Tempat foto kopi di dalam Rumah Sakit sudah tutup, saya mencarikan di luar.Saat saya berjalan kelua rdengan berkas di tangan.Saya bingung mau kearah mana? Kekiri atau kekanan? Tiba-tiba ,"mau fotokopi ya?" Ada suara seorang tukang becak yang mangkal sambil menunjukkan arah took itu.Saya kesana, Bapak penjaga took itumulai memfotokopikan, ternyata mesinnya berbunyi agak keras. "Maaf ya, mesin saya rusak, di sana ada took lain, coba kesana saja,  tapi kalau tidak ada, dating lagi kesini. Saya akan perbaiki mesin ini" Sikap yang sangat indah dari orang di sekitar rumah saki tini.Saya ketoko yang ditunjukkannya, semua berkas itu difoto kopi, puluhan lembar jumlahnya. Saat menanyakan jumlah  yang  akan dibayar, Bapak itu bertanya, "Siapa yang sakit?"

"Ini korban bom yang tadi pagi itu, Pak"

"Sudah bapak bawa saja" Beliaumenolak uang yang saya sodorkan.

"Terimakasih Pak, bolehsaya tahu nama Bapak untuk saya ingat?"

"Nama saya Muhammad...."

Hati saya sangat terharu, saat bom yang dibuat dengan sarat makna pertikaian agama, ada orang  yang bias berempati dengan baik. Beliau menyampaikan empat idengan tulus yang menyiratkan ketulusan hati banyak teman dan masyarakat muslim yang saya kenal jauh sebelum model kekerasan ini merebak.

Kejadian ini menguatkan saya bahwa di luar sana, ada banyak sesama yang punya ketulusan hati. Ada banyak orang dengan kedamaian hati  yang bila terus disuarakan akan memadamkan bara perpecahan yang hendak dikobarkan. Ayo saatnya kita suarakan kedamaian dan rasa kemanusiaan kita demi Indonesia yang harus Jaya.

 

Ditulis oleh Daniel T. Hage

Penulis adalah Ketua Majelis salah satu Gereja di Surabaya yang  diteror bom pada Minggu, 13 Mei 2018.

Kisah ini juga diterbitkan di link : http://dthage.blogspot.co.id/2018/05/nama-saya-muhammad.html?m=1

Sumber foto : Kumparan.com

  • Situation Report #4 Lombok Earthquake

    Highlight The emergency response period has been extended by 14 days, from 12 August to 25 August 2018. Aftershocks were still felt by the people in Lombok Utara District and its neighbouring ...

  • Situation Report #3 Lombok Earthquake (as of August 9 2018)

    HIGHLIGHT • Until Thursday (9/8/2018) at 12:00 p.m., The National Agency for Disaster Management stated that the number of victims due to the 6.4 magnitude earthquake that occurred on July 29 ...

  • ALERT M-7 Lombok Earthquake

    In the afternoon of Sunday the 5 August 2018, the district of North Lombok and East Lombok in West Nusa Tenggara, was hit by a 7 Richter scale magnitude earthquake ...

VIEW ALL NEWS
  • Lesson Learnt from Lombok : Aid Distribution

    The distribution of assistance during the emergency response can be a challenge for humanitarian workers. Not only is there a lack of relief supplies, even a lot of supplies can ...

  • Refleksi Singkat dari Seorang Relawan Pasca Ledakan Bom di Surabaya

    “Ada banyak orang dengan kedamaian hati  yang bila terus disuarakan akan memadamkan bara perpecahan yang hendak dikobarkan.” Sebuah refleksi singkat dari seorang relawan gereja pasca ledakan bom yang terjadi di Gerejanya   "Nama ...

  • Doa dari sini hanya nitip

    “Doa dari sini hanya nitip” (Cerita Ibu-Ibu Penyintas di Pos Kubu tentang Perayaan Hari Raya Galungan)   Matahari tepat di atas kami, kurang lebih pukul 13.00 WITA, beberapa ibu dari Desa Sebudi yang ...

VIEW ALL STORIES

Our Partners