• Sign Up
  • |
  • Login

Doa dari sini hanya nitip

By Admin | Selasa, 31 Oktober 2017 | 57 views

“Doa dari sini hanya nitip”

(Cerita Ibu-Ibu Penyintas di Pos Kubu tentang Perayaan Hari Raya Galungan)

 

Matahari tepat di atas kami, kurang lebih pukul 13.00 WITA, beberapa ibu dari Desa Sebudi yang termasuk KRB III berkumpul di depan sub-pos Krisna yang telah ditutupi dan disekat dengan terpal PMI. Tampak seorang lansia kurang lebih berusia di atas 60 tahun asyik ikut dalam pembicaraan. Kami mendekat sambil memberikan salam, “bolehkah kami ikut bergabung ibu-ibu?” Sambutan hangat dan ramah dari para ibu mempersilahkan kami duduk di tikar yang berlogo BNPB.  Tepat di depan kami, ada tempat doa yang dipasang seadanya menggunakan bambu dengan hiasan cantik.

Kemudian saya memulai pembicaraan tentang persiapan Hari Raya Galungan. Sontak semua merespon hingga saya sulit menangkap  pembicaraan yang mereka sampaikan. Kami pun melanjutkan pembicaraan:

 

Saya      : Ibu harus merayakan Galugan di sini yah? Bagaimana dengan kondisi seperti ini?

Ibu-ibu : Pokonya beda, sangat beda. Di kampung kami bisa mempersiapkan selama satu  minggu. Hari-hari seperti ini, kami sudah sibuk mengurus persiapan karena butuh waktu yang cukup lama.

Saya      : Apa saja yang ibu persiapka?

Ibu-ibu: Kalau di kampung, kami menyiapkan Banten/Sesajen dan  penampahan/persembahan khusus berupa daging, kemudian besoknya kami akan menyiapkan makanan dan buah-buahan. Pokonya kami bisa habiskan uang sampai 3 juta. Namun, pemasukan kami juga lumayan, kami bisa menjual daun-daun, bambu dan masih banyak lagi yang bisa kami jual dari kebun untuk kebutuhan Galungan. Jadi pemasukan kami juga lumayan banyak. Cukuplah! Biasanya kami masak daging, buat tum, lawar, sate dll. Kalau di sini seadanya saja. Di sini kami dapat bantuan makanan, tetapi  pikiran kami tidak tenang.

Saya      : Iya ibu saya mengerti.

Ibu-ibu : Di sini, kami tidak bisa beli daging. Sayur saja kalau beli di pasar 1 ikat 2 ribu rupiah, pada hal di kampung tidak ada yang perlu kami beli. Semua kami ambil dari kebun. Sekarang kami mau doa dengan menggunakan telur saja. Dari pos dibagikan satu kepala (jiwa) mendapatkan satu butir telur untuk 3 hari. Sebenrnya tidak cukup, tetapi kami tetap bersyukur. Kami berdoa sederhana saja, daging diganti dengan telur.

Saya      : Iya Bu! Di sini tempat doa ibu-ibu yah? (sambil menunjuk tempat doa tepat di depan kami)

Ibu-ibu :Kalau pemerintah mengijinkan, kami pulang sebentar saja. Paling tidak sejam saja kami bisa pulang, kami sudah sangat senang. Perjalanan pergi 1 jam, di kampung 1 jam, dan pulang 1 jam. Kami bisa berangkat dari sini jam 6 sampai jam 7 pagi, lanjut berdoa sampai jam 8 dan jam 9 kami sudah sampai kembali di pos. Pokoknya kami akan cepat-cepat pulang, asal diijinkan oleh pemerintah. Kalau kami berdoa di kampung lebih khusuk karena  di sanalah tempat leluhur kami. Istilahnya kami di sini hanya nitip (sambil menujuk ke tempat doa) tetapi di kampung kami langsung berdoa tanpa ada pembatas karena di sanalah kami tinggal dan juga leluhur kami. Kami akan keliling semua Pura di sana untuk berdoa. Kalau di sini katanya bisa berdoa di Pura umum yang ada disekitar sini tetapi kami belum tahu di mana, itu juga kami nitip.

Saya      : Hmmm... (saya hanya bisa menganguk, tanpa bisa berkomentar panjang)

Ibu-ibu : Kalau di kampung kami bisa buat “banten”( sajen) sampai 200 biji tetapi disini kami hanya bisa bikin 20 biji. Kami bangun jam  5 pagi untuk berdoa kemudian kami keliling Pura-pura dan saling mengujungi. Rasanya senang bisa berkumpul bersama sanak keluarga. Di sini kami terpecah-pecah, ada yang di Klungkung, ada yang kontrak di sini, di mana-mana terpisah-pisah.

Saya      : Iya Bu...( tetap menangguk)

Ibu-ibu : Kami kangen rumah, kami kangen Pura. Hanya itu, yang lain tidak ada. Semua hewan sudah dijual murah, rugi! Panenan kami sudah hancur. Pura dan rumahlah yang kami ingat dan kami ingin sekali untuk bisa pulang melihat pada saat Galungan ini. Kalau Galungan datang ke sini yah, biar tahu bagaimana Perayaan Galungan tetapi cuma sederhana. Ajak teman-teman yang lain. Kalian semua ber-limakan? Ke sini yah...

Saya      : Iya Bu, kami usahakan bisa datang ke sini. Walaupun merayakan di sini, semoga ibu-ibu tetap bersyukur

Ibu-ibu : Iya. Kami tetap bersyukur di sini.  Nyawa lebih penting. Terima kasih sudah menghibur kami dengan cerita, buat kami bisa tertawa.

Saya      : Iya ibu, kita syukuri semua bersama-sama.

 

Beberapa saat kemudian,kami  pamit untuk melanjutkan rencana hari ini yakni mengecek toilet yang dari kemarin dikeluhkan oleh penyintas karena banyak yang tidak bisa digunakan (mampet), kemudian melihat kondisi sekitar pengungsian untuk pengadaan tempat cuci pakaian dan jemuran hingga pukul 15.00 WITA. Kami pun kembali ke Pos YEU di Bangli.

 

Bangli, 28 Oktober 2017

Arnice A

 

 

  • Situation Report #2 Warning Status of Mt. Agung in Bali

    8 October 2017 Situation Report #2 Warning Status of Mt. Agung in Bali   Highlights : ¨ As of 7 October 2017 at 06:00 pm local time, there were 141.322 displaced people who were distributed in ...

  • Situation Report #1 Gunung Agung

      Laporan Situasi #1 Gunung Agung     Dukungan Tanggap Darurat Gg. Agung Negara Indonesia Jenis Laporan Laporan Situasi Lokasi Tanggap Darurat Kabupaten Karang Asem Prov Bali Nomor Laporan #1 Laporan Dipersiapkan oleh Sari Mutia Timur Tanggal Pelaporan 02 Oktober  2017     Sorotan Pengungsi masih tersebar di 416 titik pengungsian yang ...

  • Deklarasi Urban Thinkers Campus "Membangun Kota yang Beretika dan Berkeadilan"

    Laju pertumbuhan di Kota Yogyakarta yang semakin meningkat akan terkait dengan kemampuan kota untuk menampung segala kepentingan warga kota yang terdiri dari pemerintah, masyarakat sipil, dan pihak swasta. Pertumbuhan ini ...

VIEW ALL NEWS
VIEW ALL STORIES

Our Partners